Jangan Lewatkan Updet dari Dd.Ayip Dokumen

We'll not spam mate! We promise.

Showing posts with label Keagamaan. Show all posts
Showing posts with label Keagamaan. Show all posts

Thursday, 24 April 2014

Ciri-Ciri Manusia Ideal Dalam Perspektif Islam

Ciri-Ciri Manusia Ideal Dalam Perspektif Islam

Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya kita mengenal dan mengakui bahwa figur manusia ideal dipenuhi sepenuhnya oleh Rosulullah saw, tidak ada yang meragukan keagungan akhlaq Beliau, bahkan orang Quraisy sekalipun mengakui kemuliaan akhlaq Rosulullah. Maka sudah sepantasnya Beliau kita jadikan kiblat atas seluruh perilaku kita sehari- hari, bahkan Allah sendiri telah mengukuhkan Beliau sebagai teladan bagi seluruh manusia dalam firman-Nya :
“ sesungguhnya telah ada pada ( diri ) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (Al Ahzab: 21)

Diantara karakteristik manusia ideal antara lain:

  1. Memiliki konsep aqidah yang bersih

  2. Aqidah yang bersih adalah ciri pertama yang harus dimiliki seorang muslim. Dengan aqidah yang bersih, dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-Nya. Dengan aqidah yang bersih ini, seorang muslim akan melakukan segala sesuatu karena mengharap ridho Allah (lillahi ta’ala), hanya tunduk kepada-Nya, taat kepada –Nya, hanya Allah yang ditakutinya, melakukan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi larangan-Nya, dan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah.
    “ sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta Alam.“ ( Al An’am : 162).
    Betapa pentingnya aqidah ini, sehingga Rosulullah mementingkan pembinaan aqidah dan menghabiskan waktu 13 tahun untuk menanamkan aqidah Islam kepada para sahabat dan kaum muslimin.
  3. Beribadah dengan benar

  4. Dalam salah satu hadits, Rosulullah bersabda “ sholatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku sholat”. Dari hadits ini, dapat kita ungkapkan bahwa dalam melakukan berbagai peribadahan kita haruslah merujuk pada sunnah Rosulullah, tidak boleh ditambah- tambahi maupun dikurang- kurangi. Dalam hal ibadah ini, kita harus melaksanakan ibadah- ibadah wajib seoptimal mungkin, dan memperbanyak porsi ibadah - ibadah sunah.
  5. Mempunyai akhlaq yang kokoh

  6. Akhlaq yang mulia merupakan sikap dan perilaku yang yang harus diterapkan seorang muslim dalam kehidupannya sehari- hari, baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dalam hubungannya dengan sesama makhluk-Nya. Begitu pentingnya memiliki akhlaq yang mulia bagi umat manusia, maka Rosulullah diutus untuk memperbaiki akhlaq dan Beliau sendiri telah mencontohkannya kepada kita, bahkan Allah telah mengabadikan keagungan akhlaq Beliau dalam ayat cinta-Nya :
    “ dan sesungguhnya kamu benar- benar memiliki akhlaq yang agung “ ( Al Qalam : 4 )
    Diantar asifat- sifat yang harus dimiliki seorang muslim adalah :
    1. Wara’ ( hati - hati ) dalam syubhat, Hadits Arbain 6.
    2. Ghadul bashar (menundukkan pandangan ), QS An Nur : 30.
    3. Menjaga lidah , QS Al Israa: 36, Al Qaaf : 18.
    4. Malu
    5. Lemah lembut, pemaaf, dan sabar, QS Ali Imran : 134, Al A’raaf : 199.
    6. Jujur, QS At Taubah : 119, Al Hajj: 30, Al Israa : 36.
    7. Rendah hati , QS Al Furqan : 63, Asy Syu’ara : 215.
    8. Menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari cela sesama muslim, QS Al Hujurat : 12, Al Qalam : 11.
    9. Dermawan dan pemurah
    10. Kuat memagang amanah, janji, dan kerahasiaan, QS Al Israa : 34, Ash Shaff : 2-3.

  7. Mampu memenuhi kebutuhannya
  8. Maksudnya adalah memiliki kemampuan usaha atau kekuasaan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru boleh dilaksanakan bila seseorang memiliki kekuasaan. Seorang muslim harus mandiri, tidak bergantung pada orang lain, terutama dalam hal ekonomi. Tak sedikit mereka yang harus melepaskan prinsipnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi.
    Seorang muslim haruslah kaya agar dia bisa melaksanakan haji, menginfaqan hartanya di jalan Allah, bershodaqoh, dan merencanakan masa depan yang baik. Allah memberi perintah bagi muslimin untuk mencari nafkah :
    “ apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak – banyak supaya kamu beruntung.“ (Al Jumu’ah : 10)

  9. Memiliki pemikiran yang luas
  10. Salah satu sifat Rosulullah adalah fatonah ( cerdas ). Al- Quran banyak mengungkapkan ayat – ayat yang merangsang kita untuk berpikir. Di dalam Islam tidak ada satu pun perbuatan yang harus kita lakukan kecuali didahului dengan berpikir, ilmu didahulukan daripada amal. Seorang muslim harus mempunyai tsaqofah keislaman dan keilmuan yang luas. Dalam banyak ayat-Nya, Allah melebihkan orang yang berilmu dengan yang tidak.
    “ ...niscaya Allah akan meninggikan orang- orang yang beriman diantaramu dan orang- orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat....” ( Al Mujadilah : 11 )
    “katakanlah : “adakah sama orang- orang yang mengetahui dengan orang- orang yang tidaak mengetahui ?” sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” ( Az Zumar : 9 ).

  11. Jasmaninya kuat dan sehat
  12. Seorang muslim haruslah mempunyai jasmani dan daya tahan tubuh yang kuat sehingga dapat menjalankan seluruh ajaran Islam dengan optimal. Sholat, puasa, haji adalah ibadah – ibadah yang memerlukan kesehatan jasmani kita agar kita mampu menjalankannya dengan optimal, apalagi berperang di jalan Allah, dakwah serta perjuangan – perjuangan lainnya. Kesehatan jasmani ( dan kebersihan ) harus kita prioritaskan, sakit adalah hal yang wajar, namun sudah sepatutnya kita jangan sampai sakit terus menerus. Bukankah mukmin yang kuat lebih Beliau cintai daripada mukmin yang lemah ?

  13. Mampu melawan hawa nafsunya
  14. Salah satu kepribadian yang harus dimiliki seorang muslim adalah mampu melawan hawa nafsunya, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik atau yang buruk.
    “ maka Allah mengilhamkan kepadanya kedurhakaan dan ketaqwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (Asy Syams : 8-10 )
    Setiap muslim dituntut bersungguh- sungguh untuk melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan bersungguh- sungguh pula dalam menghindari kecenderungan pada yang buruk dan melawan hawa nafsunya. Hawa nafsu yang ada pada diri setiap manusia haruslah tunduk pada ajaran Islam yang diajarkan Rosulullah saw.
  15. Teratur dalam urusannya
  16. “ dan hendaklah ia rapi dalam segala urusannya“
    Seorang muslim ditekankan Al Quran dan sunnah untuk selalu melaksanakan dan menyelesaikan segala urusannya dengan baik. Ketika suatu urusan dilaksanakan bersama- sama, maka dia dituntut untuk mampu bekerja sama dengan anggota timnya. Dengan kata lain, dia harus menjadi orang yang profesional, bersungguh- sungguh, bersemangat, mau berkorban, serta serius dalam mengerjakan tugas-tugasnya.

  17. Manajemen waktunya baik
  18. Waktu mempunyai urgensi yang sangat penting bagi seorang muslim. Betapa pentingnya waktu sehingga Allah banyak bersumpah dalam Al Quran dengan menyebut nama waktu seperti wadh dhuha, wal fajr, wal ashr, wal laili, dsb.
    Waktu adalah harta yang paling penting, dia cepat berlalu, dan tidak akan pernah kembali. Mengingat pentingnya waktu tersebut, sudah sepantasnya bagi seorang muslim untuk memanfaatkan waktunya dengan baik, memanfaatkan waktu luangnya dengan sesuatu yang bermanfaat, dan tidak menunda- nunda untuk bersegera dalam melakukan kebaikan.

  19. Bermanfaat bagi orang lain
  20. Bermanfaat bagi orang lain merupakan tuntutan dalam Islam. “ sebaik- baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” ( HR Qudhy dari Jabir ).
    Maka sudah sepantasnya bila kita sedapat mungkin memberikan manfaat yang baik bagi orang – orang di sekitar kita, jangan sampai seorang muslim justru disyukuri ketika dia tidak hadir dan tidak disukai ketika ia hadir. Setiap muslim harus mempersiapkan dirinya, berupaya semaksimal mungkin agar bermanfaat bagi lingkungannya, dan mampu mengambil peranan yang baik dalam masyarakatnya.

Monday, 7 April 2014

Tujuan Hidup Manusia Menurut perspektif islam

Tujuan Hidup Manusia Menurut perspektif islam

Ada sebuah ungkapan yang pernah saya baca; “Orang bodoh hidup untuk makan, namun orang bijak makan untuk hidup.”Lantas apakah tujuan hidup orang bijak? Apakah hanya untuk bertahan hidup? Padahal kehidupan bukanlah akhir dan tidak dapat mengakhiri dirinya sendiri, lantas apa tujuan hidup ini?
Para ahli fikir merumuskan masalah ini dengan 3 pertanyaan dasar; Darimana, kemana, dan mengapa? Artinya, saya darimana, akan kemana, lantas mengapa saya ada disini?
Bagi mereka yang tidak mempercayai adanya Tuhan, yakni orang Ateis, hanya yakin terhadap materi yang terindera. Menurut mereka sesuatu itu ada jika terdeteksi oleh indera, jika tidak maka ia adalah fiksi. Alam semesta beserta isinya bagi mereka – terjadi begitu saja – kebetulan yang indah.Dan manusia tidak ubahnya bagai binatang dan tumbuhan, hidup dalam jangkau waktu tertentu kemudian mati.
Sehingga dalam pandangan mereka, dunia inilah awal dan akhir dan ini semua terjadi begitu saja tanpa ada keterlibatan Tuhan, karena mereka meyakini alam mempunyai mekanisme sendiri untuk mengatur dirinya sendiri.
Namun jika kita bicara jujur, sebenarnya tiap manusia mempunyai naluri keagamaan.Maka saya setuju dengan ungkapan sejarawan terkemuka Yunani 2000 tahun silam, Plutarch mengatakan, “Adalah mungkin bagi anda menjumpai kota-kota yang tidak memiliki istana, raja, kekayaan, etika, dan tempat-tempat pertunjukan.Namun tidak seorangpun yang dapat menemukan sebuah kota yang tidak memiki sesembahan atau kota yang tidak mengajarkan penyembahan kepada para penduduknya”.Ungkapan kuno ini benar.Ia menyatakan bahwa naluri keagamaan sesungguhnya adalah sesuatu yang bersumber dari fitrah manusia.
Kajian atas sejarah manusia menegaskan bahwa kepercayaan telah bersemayam dalam diri manusia sejak kurun peradaban kuno hingga saat ini.
Menurut Alquran, segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, termasuk manusia, hidup didalam naungan hidayah yang terbentuk secara fitri, yang mengantarkannya kepada Allah. Dari titik tolak inilah Islam berusaha menggiring pemahaman umat manusia untuk tidak menjadikan dunia ini, sebagai persinggahan terakhir, namun sebagai starting point untuk menuju kehidupan selanjutnya yang abadi dan hakiki, akhirat!
Selama ini kita sering mendengar dari ulama2 yang menjelaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada ALLAH sebagaimana ayat QS 51:56 menjelaskan.
“ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”
Beribadah (worship) kepada ALLAH diartikan menyembah(shalat) kepada ALLAH, berpuasa, naik haji, berbuat kebaikan2 dll.Kalau sudah menjalankan rukun islam ini(ritual), maka mereka sudah merasa beragama dengan benar? Sesungguhnya bukanlah demikian menurut ALLAH.Penjelasan seperti diatas itu belumlah sempurna, sehingga hasilnya pun juga tidak sempurna. Seperti kita lihat masarakat islam sekarang ini yang masih terbelakang.
Beribadah kepada ALLAH bukanlah menyembah ALLAH saja, bukan menjalankan rukun islam yang lima saja, dan berbuat kebajikan saja, tetapi maknanya jauh dari itu.
Kalau diartikan seperti diatas ini,maka kita lihat hasilnya adalah masarakat yang tidak produktif alias miskin.Sangat menyedihkan bukan?Beribadah kepada ALLAH SWT artinya mengabdi atau bekerja untuk ALLAH dengan sungguh-sungguh.
ALLAH adalah Raja dari para Raja di bumi dan dilangit ini. Sebagai hamba-hamba ALLAH,maka manusia seharusnya patuh dan taat mengikuti semua peraturan-peraturan ALLAH bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berkerja di dunia ini.
Semua peraturan-peraturan ALLAH itu tertulis dalam kitab2 sucinya; Taurat,injil dan AL Quran. Al Quran adalah buku pedoman hidup manusia yang terakhir, dan sempurna.Kita sudahtahu apa tujuan hidup kita yaitu mengabdi atau bekerja untuk ALLAH.
Mari kita lihat pula dalam AL Quran,apakah tugas-tugas hidup manusia di bumi ini sebagai pekerja-pekerja dari ALLAH?
Jadi ada dua macam; satu tujuan hidup, dan kedua adalah tugas hidup;
a.    tujuan hidup
Ketahuilah bahwa kita diciptakan oleh Allah SWT bukan semata untuk hidup di dunia bukan pula untuk sekedar makan dan minum.Apalagi berfoya-foya untuk memenuhi tiap keinginan hawa nafsu kita. Allah SWT berfirman:
وَمَاخَلَقْتُالْجِنَّوَاْلإِنْسَإِلاَّلِيَعْبُدُوْنِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
Dari ayat tersebut jelaslah bahwa kita diciptakan utk suatu tujuan yang besar dan sangat mulia.Allah SWT ingin memuliakan hamba-hamba-Nya yang mewujudkan tujuan penciptaan diri yaitu beribadah hanya kepada Allah SWT.Allah SWT tdk membutuhkan hal itu sedikitpun dari hamba-hamba-Nya.Akan tetapi ibadah yang Allah SWT perintahkan kepada kita adalah untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah SWT berfirman:
إِنْتَكْفُرُوْاأَنْتُمْوَمَنْفِياْلأَرْضِجَمِيْعًافَإِنَّاللهَلَغَنِيٌّحَمِيْدٌ
“Jika kalian dan orang-orang yang ada di muka bumi ini seluruh kufur kepada Allah maka sesungguh Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.”
Karena tujuan yg mulia inilah Allah SWT telah mengutus kepada kita Rasul-Nya yg merupakan penutup seluruh para nabi yaitu Nabi kita Muhammad SAW.
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dlm Tafsir- menyebutkan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata: ‘Memujilah kalian kepada Rabb kalian atas diutus Nabi yg ummi ini yg berasal dari kalangan Arab yg memberi kabar gembira dan peringatan serta menjadi saksi atas amalan yg dilakukan oleh umat ini. Bersyukurlah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan syukurilah ni’mat yg besar ini dgn menaati utusan-Nya dan janganlah sekali-kali kalian mengkufuri ni’mat ini dgn tdk mau menaati Rasul yg diutus kepada kalian sehingga kalian seperti Fir’aun. Ketika Musa bin ‘Imran diutus kepada Fir’aun dan mengajak kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala serta memerintahkan utk beribadah hanya kepada-Nya dia tdk mau beriman kepada Musa bahkan bermaksiat kepadanya. mk Allah Subhanahu wa Ta’ala mengadzab dgn adzab yg sangat pedih.”
Oleh krn itu barangsiapa ingin mendapatkan kemuliaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia dan di akhirat selamat dari siksa-Nya dan mendapatkan surga-Nya tdk lain cara dgn beribadah hanya kepada-Nya dan mengikuti petunjuk Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْيُطِعِاللهَوَرَسُوْلَهُيُدْخِلْهُجَنَّاتٍتَجْرِيمِنْتَحْتِهَااْلأَنْهَارُخَالِدِيْنَفِيْهَاوَذَلِكَالْفَوْزُالْعَظِيْمُ.وَمَنْيَعْصِاللهَوَرَسُوْلَهُوَيَتَعَدَّحُدُوْدَهُيُدْخِلْهُنَارًاخَالِدًافِيْهَاوَلَهُعَذَابٌمُهِيْنٌ
“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya niscaya Allah akan memasukkan ke dlm surga yg mengalir di dlm sungai-sungai sedangkan mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yg besar.Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya niscaya Allah memasukkan ke dlm api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan bagi siksa yg menghinakan.”
Dengan demikian jelaslah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan sebab kebahagiaan seseorang di dunia dan di akhirat adl dgn menaati Allah dan Rasul-Nya. Sebalik Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kecelakan serta kebinasaan seseorang di dunia dan di akhirat adl krn bermaksiat terhadap Allah dan Rasul-Nya.
Karena dalam Al-qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَاالنَّاسُإِنَّوَعْدَاللهِحَقٌّفَلاَتَغُرَنَّكُمُالْحَيَاةُالدُّنْيَاوَلاَيَغُرَّنَّكُمْبِاللهِالْغَرُوْرُ
“Hai manusia sesungguh janji Allah adalah benar maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kalian dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu memperdayakan kalian tentang Allah.”
Kehidupan di dunia ini adl suatu perjalanan yg menghantarkan pada kehidupan yg sesungguh di akhirat.Dunia adl tempat beramal dan akhirat adl tempat pembalasan.
 Allah sekali-kali tdk akan menangguhkan seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yg kamu kerjakan.”
b.    Tugas hidup manusia seperti ALLAH mengatakan sebagai berikuti ;
“Dialah yang telah menciptakan kamu dari bumi (tanah), dan menjadikan kamu pemakmurnya. (QS.11:61).
Perintah bekerja untuk memakmurkan bumi, sudah diperintahkan sebelumnya oleh ALLAH kepada Nabi Adam yang diberitahukan kepada Nabi Musa (Taurat) seperti berikut ini;
God said to Adam.
• God said; “You will have to work hard and sweat to make the soil produce anything, until you go back to the soil from which you were formed. You were made from the soil, and you will become soil again” (Genesis 3.18-19.).
Perintah ALLAH kepada Nabi Adam, Nabi Musa, dan Muhammad saw adalah sama yaitu manusia yang diciptakan oleh ALLAH ini harus bekerja keras, sungguh-sungguh untuk memakmurkan bumi, artinya memakmurkan keluarga,masarakat dan umat.
Jadi kedua hal ini mempunyai peranan yang sama pentingnya, lantas apa arti semua ini? Kemerdekaan! Allah SWT menghendaki manusia untuk mengEsakan-Nya, dan menjadi manusia yang benar-benar merdeka bersama-Nya agar tidak menjadi hamba bagi segala sesuatu
Dari penghambaan kepada Allah sajalah, akan lahir kemerdekaan manusia. Sebaliknya, dari kesombongan terhadap Allah, manusia akan diperbudak oleh segala sesuatu selain Allah. Dengan kata lain, pengEsaan dan penghambaan kepada Allah, memberikan kemulian dan kemerdekaan kepada manusia. Tanpanya, manusia menjadi budak bagi segala sesuatu yang diciptakanNya. Dan inilah tujuan hidup orang bijak yakni, merdeka bersama Allah, Tuhan yang menciptakannya

Saturday, 19 October 2013

Pengertian, Fungsi, dan Tujuan Pendidikan Agama Islam

Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, ajaran agama islam, dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati penganut agama Lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.

Menurut Zakiyah Daradjat sebagaimana dikutip Oleh Abdul Majid, Dian Andayani pendidikan agama islam adalah suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan islam sebagai pandangan hidup.

Kalau kita melihat pada sejarah pendidikan Indonesia maupun dalam studi kependidikan, sebutan Pendidikan Agama Islam umumnya dipahami hanya sebatas sebagai ciri khas jenis pendidikan yang berlatar belakang keagamaan, sepertihalnya civil education di sekolah sering dikesankan sebagai sistem rekayasa sosial yang paling bertanggung jawab terhadap upaya mempertegas upaya multi kultural warga Negara. Pendidikan Agama Islam selama ini juga dikesankan sebagai tipe pendidikan yang bercorak dogmatis, doktriner, monolitik dan tidak berwawasan multi cultural.

Walaupun sebenarnya Pendidikan Agama Islam memang tidak bisa dipisahkan dalam perjalanan bangsa Indonesia pada sisi sejarahnya. Karena jelas Pendidikan Agama Islam berupaya mengembangkan manusia seutuhnya, bukan hanya serpian dari potensi-potensi yang diberikan oleh Tuhan kepadanya, seperti yang berlaku pada pendidikan Sparta da Athena yang didewa-dewakan oleh orang-orang sekarang.

Pendidikan Agama Islam merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang ada di Indonesia, sebelum pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan sistem sekolah pada abab ke-19. Kalau meminjam bahasanya Tilaar bahwa Pendidikan Agama Islam telah berhasil survive dalam berbagai situasi dan kondisi mengarungi masa, oleh karenanya Pendidikan Agama Islam mengandung nilai-nilai historis, nilai religius dan nilai moral.
Tentunya karena Pendidikan Agama Islam berlandaskan kepada beberapa hal, yaitu : Pertama. Landasan spiritual, yang berupa nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah . Kedua, landasan filosifis yang berupa kurikulum, yang dalam pengertian luas merupakan produk ijtihad yang dapat meliputi seluruh aspek kependidikan. Ketiga, landasan operasional yang meliputi berbagai didaktik metodik, dana dan sarana serta leadership dan manajemen . Sehingga penting menjadikan Pendidikan Agama Islam sebagai salah satu pendidikan alternativ, tentunya dengan membutuhkan paradigma-paradigma baru untuk meningkatkannya, antara lain dengan peningkatan manajemen pendidikan Islam itu sendiri .
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nomor 20 tahun 2003 pasal 1 disebutkan, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang di perlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Fungsi Pendidikan Agama Islam

Salah satu fungsi pendidikan secara umum yaitu proses memanusiakan manusia dalam rangka mewujudkan budayanya. Manusia di ciptakan dalam keadaan fitrah (Al-Qur’an). Fitrah dalam Al-Qur’an pada dasarnya memiliki arti potensi yaitu kesiapan manusia untuk menerima kondisi yang ada di sekelilingnya dan mampu menghadapi tantangan serta mempertahankan dirinya untuk survive dengan tetap berpedoman kepada Al-Qur’an dan sunnah.
Namun dalam dunia pendidikan, Kurikulum pendidikan agama Islam dalam sekolah berfungsi sebagai :
  • Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaaan peserta didik kepada Allah SWT yang telah di tanamkan dalam lingkungan keluarga.
  • Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
  • Penyesuaian mental, yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah lingkungannya sesuai dengan ajaran agama Islam.
  • Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.
  • Pencegahan yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya atau budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan menghambat perkembangannya munuju manusia Indonesia seutuhnya.
  • Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata dan nir-nyata), sistem dan fungsionalnya.
  • Penyaluran yaitu untuk menyalurkana anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat di manfa’atkan untuk dirinya sendiri dan bagi orang lain.

Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan pendidikan merupakan hal yang dominan dalam pendidikan, rasanya penulis, perlu mengutip ungkapan Berieter, bahwa pendidikan adalah persoalan tujuan dan fokus. Mendidik anak berarti bertindak dengan tujuan agar mempengaruhi perkembangan anak sebagai seseorang secara utuh.

Dari keterangan di atas tadi, secara umum fungsi pendidikan agama Islam bertujuan untuk menumbuhkan dan meningkatkan keimanan malalui pemberian dan pemupukan pengetahuan, penghayatan, pangamalan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan, ketaqwaannya, berbangsa, dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Monday, 22 April 2013

Sejarah Lengkap Kesultanan Cirebon

Sejarah Kesultanan | Tokoh-tokoh  | Pendiri | Perpecahan Kesultanan Cirebon

KESULTANAN CIREBON  adalah sebuah kesultanan Islam ternama di Jawa Barat pada abad ke-15 dan 16 Masehi, dan merupakan pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar pulau. Lokasinya di pantai utara pulau Jawa yang merupakan perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat, membuatnya menjadi pelabuhan dan "jembatan" antara kebudayaan Jawa dan Sunda sehingga tercipta suatu kebudayaan yang khas, yaitu kebudayaan Cirebon yang tidak didominasi kebudayaan Jawa maupun kebudayaan Sunda.

Sejarah Kesultanan Cirebon

Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran), karena di sana bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang berbeda-beda untuk bertempat tinggal atau berdagang.
Mengingat pada awalnya sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah sebagai nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai serta pembuatan terasi, petis, dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon inilah berkembanglah sebutan cai-rebon (Bahasa Sunda:, air rebon) yang kemudian menjadi Cirebon.
Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman, Cirebon kemudian menjadi sebuah kota besar dan menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa baik dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan di kepulauan Nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Selain itu, Cirebon tumbuh menjadi cikal bakal pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.

Tokoh - Tokoh dalam Perkembangan Kesultanan Cirebon

Ki Gedeng Tapa
Ki Gedeng Tapa (atau juga dikenal dengan nama Ki Gedeng Jumajan Jati) adalah seorang saudagar kaya di pelabuhan Muarajati, Cirebon. Ia mulai membuka hutan ilalang dan membangun sebuah gubug dan sebuah tajug (Jalagrahan) pada tanggal 1 Syura 1358 (tahun Jawa) bertepatan dengan tahun 1445 Masehi. Sejak saat itu, mulailah para pendatang mulai menetap dan membentuk masyarakat baru di desa Caruban.

Ki Gedeng Alang-Alang
Kuwu atau kepala desa Caruban yang pertama yang diangkat oleh masyarakat baru itu adalah Ki Gedeng Alang-alang. Sebagai Pangraksabumi atau wakilnya, diangkatlah Raden Walangsungsang, yaitu putra Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subanglarang atau Subangkranjang, yang tak lain adalah puteri dari Ki Gedeng Tapa. Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat, Walangsungsang yang juga bergelar Ki Cakrabumi diangkat menjadi penggantinya sebagai kuwu yang kedua, dengan gelar Pangeran Cakrabuan.

Pangeran Cakrabuana
Pangeran Cakrabuana adalah keturunan Pajajaran. Putera pertama Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang kedua bernama SubangLarang (puteri Ki Gedeng Tapa). Nama kecilnya adalah Raden Walangsungsang, setelah remaja dikenal dengan nama Kian Santang. Ia mempunyai dua orang saudara seibu, yaitu Nyai Lara Santang/ Syarifah Mudaim dan Raden Sangara.
Sebagai anak sulung dan laki-laki ia tidak mendapatkan haknya sebagai putera mahkota Pakuan Pajajaran. Hal ini disebabkan oleh karena ia memeluk agama Islam (diturunkan oleh Subanglarang - ibunya), sementara saat itu (abad 16) ajaran agama mayoritas di Pajajaran adalah Sunda Wiwitan (agama leluhur orang Sunda) Hindu dan Budha. Posisinya digantikan oleh adiknya, Prabu Surawisesa, anak laki-laki Prabu Siliwangi dari istrinya yang ketiga Nyai Cantring Manikmayang.
Ketika kakeknya Ki Gedeng Tapa yang penguasa pesisir utara Jawa meninggal, Walangsungsang tidak meneruskan kedudukan kakeknya, melainkan lalu mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Dengan demikian, yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Pangeran Cakrabuana, yang usai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman, tampil sebagai "raja" Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.

Pendirian
Pendirian kesultanan ini sangat berkaitan erat dengan keberadaan Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon didirikan pada tahun 1552 oleh panglima kesultanan Demak, kemudian yang menjadi Sultan Cirebon ini wafat pada tahun 1570 dan digantikan oleh putranya yang masih sangat muda waktu itu. Berdasarkan berita dari klenteng Talang dan Semarang, tokoh utama pendiri Kesultanan Cirebon ini dianggap identik dengan tokoh pendiri Kesultanan Banten yaitu Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati (1479-1568)
Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulailah oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti raja-raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten.
Pada tahun 1479 M, kedudukannya kemudian digantikan putra adiknya, Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir, yakni Syarif Hidayatullah (1448-1568) yang setelah wafat dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan bergelar pula sebagai Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah.

Fatahillah (1568-1570)
Kekosongan pemegang kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat keraton yang selama Sunan Gunung Jati melaksanakan tugas dakwah, pemerintahan dijabat oleh Fatahillah atau Fadillah Khan. Fatahillah kemudian naik takhta, dan memerintah Cirebon secara menjadi raja sejak tahun 1568. Fatahillah menduduki takhta kerajaan Cirebon hanya berlangsung dua tahun karena ia meninggal dunia pada tahun 1570, dua tahun setelah Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Sunan Gunung Jati di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung.

Panembahan Ratu I (1570-1649)
Sepeninggal Fatahillah, oleh karena tidak ada calon lain yang layak menjadi raja, takhta kerajaan jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati yaitu Pangeran Mas, putra tertua Pangeran Dipati Carbon atau cicit Sunan Gunung Jati. Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu I dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun.

Panembahan Ratu II (1649-1677)
Setelah Panembahan Ratu I meninggal dunia pada tahun 1649, pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim, karena ayah Pangeran Rasmi yaitu Pangeran Seda ing Gayam atau Panembahan Adiningkusumah meninggal lebih dahulu. Pangeran Rasmi kemudian menggunakan nama gelar ayahnya almarhum yakni Panembahan Adiningkusuma yang kemudian dikenal pula dengan sebutan Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II.

Perpecahan I (1677)

Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon, dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677.
Ini merupakan babak baru bagi keraton Cirebon, dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya. Dengan demikian, para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah:
  1. Sultan Keraton Kasepuhan, Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1677-1703)
  2. Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677-1723)
  3. Pangeran Wangsakerta, sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati(1677-1713)
  4. .
Perpecahan II (1807)

Suksesi para sultan selanjutnya pada umumnya berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803), dimana terjadi perpecahan karena salah seorang putranya, yaitu Pangeran Raja Kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama Kesultanan Kacirebonan.
Kehendak Pangeran Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan keluarnya besluit (Bahasa Belanda: surat keputusan) Gubernur-Jendral Hindia Belanda yang mengangkat Pangeran Raja Kanoman menjadi Sultan Carbon Kacirebonan tahun 1807 dengan pembatasan bahwa putra dan para penggantinya tidak berhak atas gelar sultan, cukup dengan gelar pangeran.
Sejak itu di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu Kesultanan Kacirebonan, pecahan dari Kesultanan Kanoman. Sementara tahta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV yang lain bernama Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811).

Masa kolonial dan kemerdekaan

Sesudah kejadian tersebut, pemerintah Kolonial Belanda pun semakin dalam ikut campur dalam mengatur Cirebon, sehingga semakin surutlah peranan dari keraton-keraton Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya. Puncaknya terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926, dimana kekuasaan pemerintahan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapuskan dengan disahkannya Gemeente Cheirebon (Kota Cirebon), yang mencakup luas 1.100 Hektar, dengan penduduk sekitar 20.000 jiwa (Stlb. 1906 No. 122 dan Stlb. 1926 No. 370). Tahun 1942, Kota Cirebon kembali diperluas menjadi 2.450 hektar.
Pada masa kemerdekaan, wilayah Kesultanan Cirebon menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Secara umum, wilayah Kesultanan Cirebon tercakup dalam Kota Cirebon dan Kabupaten Cirebon, yang secara administratif masing-masing dipimpin oleh pejabat pemerintah Indonesia yaitu walikota dan bupati.

Perkembangan terakhir
Setelah masa kemerdekaan Indonesia, Kesultanan Cirebon tidak lagi merupakan pusat dari pemerintahan dan pengembangan agama Islam. Meskipun demikian keraton-keraton yang ada tetap menjalankan perannya sebagai pusat kebudayaan masyarakat khususnya di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Kesultanan Cirebon turut serta dalam berbagai upacara dan perayaan adat masyarakat dan telah beberapa kali ambil bagian dalam Festival Keraton Nusantara (FKN).
Umumnya, Keraton Kasepuhan sebagai istana Sultan Sepuh dianggap yang paling penting karena merupakan keraton tertua yang berdiri tahun 1529, sedangkan Keraton Kanoman sebagai istana Sultan Anom berdiri tahun 1622, dan yang terkemudian adalah Keraton Kacirebonan dan Keraton Kaprabonan.
Pada awal bulan Maret 2003, telah terjadi konflik internal di keraton Kanoman, antara Pangeran Raja Muhammad Emirudin dan Pangeran Elang Muhammad Saladin, untuk pengangkatan tahta Sultan Kanoman XII. Pelantikan kedua sultan ini diperkirakan menimbulkan perpecahan di kalangan kerabat keraton tersebut.

Saturday, 9 March 2013

Kehancuran Fir'aun dan Pengikutnya


Hancurnya Fir'aun dan Pengukutnya

Kebengisan Fir'aun semakin menjadi-jadi. Para pengikut Nabi Musa disiksa diluar batas agar menjadi kafir dan mengikuti perintah Fir'aun.

Nabi Musa kemudian berdo'a agar Allah menimpakan adzab kepada Fir'aun dan para pengikutnya. Do'anya dikabulkan. Mesir dilanda kemarau panjang sehingga banyak panen yang gagal. Tanaman dan pepohonan banyak yang mati. Disusul badai topan yang merobohkan rumah-rumah mereka, jutaan belalang didatangkan menyerbu hewan dan perkebunan, juga kutu dan katak. Terakhir semua air di negeri Mesir mendadak berubah menjadi darah. Wabah penyakit melanda dimana-mana, setiap anak laki-laki bangsa Mesir mendadak mati tidak terkecuali anak-anak Fir’aun sendiri termasuk putra mahkotanya....

Dalam keadaan demikian mereka mendatangi Nabi Musa agar berdo’a kepada Tuhan untuk mencabut adzan itu. Nabi Musa mulai berdo’a setelah Fir’aun berjanji akan membiarkan kaum Bani Israil pergi dari Mesir bersama Musa.

Namun setelah azab itu berhenti dan keadaan menjadi normal Fir,aun mengingkari janjinya. Kaum Bani Israil yang menjadi buruh, budak dan sebagainya tetap diperintahkan bekerja di Mesir dan para pengikut Nabi Musa masih banyak yang disiksanya.

Dalam keadaan demikian datanglah sebuah wahyu dari Allah agar Musa mengajak kaumnya pergi meningggalkan Mesir.

Mereka berangkat secara diam-diam dimalam hari. Takut ketahuan Fir'aun. Namun akhirnya Fir'aun mengetahuinya juga. Ia dan bala tentaranya segera menyusul rombongan Nabi Musa.

Syahdan, rombongan Musa telah sampai di tepi Laut Merah. Mereka tak dapat melanjutkan perjalanan karena terhalang laut. Para pengikut Nabi Musa panik karena Fir’aun dari kejauhan sudak tampak bersama bala tentaranya yang akan membunuh mereka.

"Jangan takut Tuhan bersama kita," kata Nabi Musa sambil memukulkan tongkatnya ke laut. Seketika laut itu terbelah.

Para pengikut Nabi Musa segera berjalan di tengah-tengah laut yang terbelah itu.

Setelah mereka sampai di daratan seberang, Fir’aun tiba dan menyusul mereka melalui jalan di laut yang terbelah.

Namun ketika Fir’aun dan para pengikutnya sampai dipertengahan mendadak laut yang terbelah itu mengatup kembali. Tenggelamlah Fir’aun dan para pengikutnya. Semua binasa tanpa tersisa.

Sesudah selamat dari kejaran Fir’aun, Musa dan pengikutnya meneruskan perjalanan. Diwaktu mereka kehausan dan tidak mendapat air, Nabi Musa memukulkan tongkat ke batu, maka dari batu itu memancarkanlah air yang dapat mereka minum.

Sewaktu mereka berada di semenanjung Sinai mereka kepanasan, matahari seperti memanggang bumi. Tak ada tempat berteduh karena tak satupun pohon terlihat oleh mereka. Di saat seperti inilah Allah memberikan nikmatnya berupa awan yang melindungi perjalanan mereka.

Dan ketika kehabisan bekal, mereka minta kepada Nabi Musa agar Allah menurunkan makanan buat mereka. Allah kemudian memberi mereka makanan berupa Manna Salwa.
Manna rasanya manis seperti madu. Sedang Salwa adalah burung puyuh yang datang berbondong-bondong silih berganti. Mendapat makanan yang baik itu mereka bukannya bersyukur malah mau minta makanan dari jenis yang lainnya lagi.

Thursday, 17 January 2013

Makalah Perilaku Amal Shaleh

Perilaku Terpuji (Adil, Rida, dan Amal Saleh)

A.    Adil
1.    Pengertian Adil dan Dasar-Dasarnya
Kata adil berasal dari bahasa Arab “Adl” yang berarti sama. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata adil diartikan : 1) Tidak berat sebelah / Tidak memihak, 2) Berpihak kepada kebenaran, 3) Sepatutnya / Tidak sewnang-wenang. Adil menurut istilah agama ilahmelaksanakan amanat Allah dengan menempatkan sesuatu pada kedudukan yang sebenarnya, dengan tidak menambah atau menguranginya.
Sedangkan mizan berasal dari “wazn” yang berarti timbangan. Oleh marena itu, mizan berarti alat untuk menimbang dan dapat pula berarti keadilan.